ResAPP
Cerita dibaliknya
Sebut saja ResAPP. Sebuah ide aplikasi yang kami rancang dalam rangka mengikuti hackathon yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya. TBH kompetisi ini sebenernya salah satu dari kompetisi yang pernah kuikuti di kampus tapi satu-satunya yang akhirnya memang, hahahaha.
Tempa dari kompetisi ini adalah agrikultur, sebuah tema yang sangat asing bagi kita. Secara teknis kita ber-4 (tim ASIH - Arddhana Shahnaz Ikhsan Hanif) anak sistem informasi yang sangat jauh dari bidang keilmuan agrikultur dan sejenisnya. Hal itu awalnya jadi salah satu tantangan yang cukup membuat kita bingung. Namun, enaknya dari panitia mengadakan sebuah sesi coaching untuk bisa berdikusi dan menggali informasi sedalam-dalamnya dari apa yang menjadi topik permasalahan dan masalah yang ada paga bidang agrikultur ini.
Sesi Coaching
Sebelum sesi coaching ini sebenernya ketua tim kita udah punya gagasan ide produk yang ingin kita buat. Kita coba presentasikan dan diskusikan, tapi tentu saja banyka hal yang diluar dari prediksi dan kemampuan kita. Well said, banyak miss dan hal yang kita tidak ketahui dan kita tidka pertimbangkan selama pada rancangan ide aplikasi yang pertama.
Selama sesi coaching ini, muncul pertanyaan-pertanyaan 'lugu' yang kita tanyakan kepada coach kita saat itu. Salah satunya adalah apa masalah yang sebenernya paling umum di bidang ini? Pertanyaan lugu tadi yang membuka mata kita betapa luas dan kompleknya permasalahan bidang ini. Jawabannya Logistik. Tentu masalah pendanaan, penjualan, pupuk juga menjadi masalah yang terjadi di bidang agrikultur ini. Tapi, logistik menjadi masalah krusial karena logistik ini yang menjadi penghubung dari banyak aspek lainnya. Distribusi pupuk, distribusi hasil jadi, distribusi bahan, dari petani ke konsumen, dari petani ke pasar, dan lain sebagainya. Masukan yang diberikan oleh coach saat itu adalah bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah logistik ini dengan produk yang kita buat.
Setelah sesi coaching
Hari demi hari setelah sesi coaching kita mulai terpaku dan berusaha mencari solusi dari permasalahan logistik ini. Dan benar adanya kita terlalu terpaku hingga lupa untuk benar-benar menggail apa masalah yang sebenarnya ingin kita pecahkan.
Kita lupa akan pertanyaan, siapa yang ingin kita bantu? apa masalahnya? kenapa masalah itu terjadi?
Sebagai anggota tim yang bertugas sebagai product designer (red: bertugas merancang produk) aku lupa. Aku lupa tentang apa yang sebenrnya harus kita buat. Kita bikin produk sebaiknya -well sebaiknya disini memang secara teori ya haha- untuk menyeslaikan masalah. Maslaah apa yang kita selesaikan? Masalah yang paling sederhana dan yang paling dekat dengan kita. Selama berhari-hari bahkan hampir seminggu kita berusaha brainstorming dengan topik maslaah logistik. Kita bahkan nggak validasi ke user atau orang-orang yang terkait dengan itu. Kita lupa cara terbaik untuk mencari masalah adalah berempati. Hingga pada suatu malam kita akhirnya sadar..
Kayanya gabisa deh kalo logsistik, too big! terlalu luas!
Kita tidak tahu siapa user kita. Akhirnya haluan berubah, kita coba ulang brainstroming dengan memposisikan diri kita seabagai user. Apa masalah utama yang sering kita alami dan atau setidaknya dekat dengan kita.
MAKAN ; makanan, masakan..
Kita sadar hal yang paling dekat dengan kita adalah makanan. Kita coba gali pokok masalah yang ingin kita pecahkan. Apa masalah yang kita alami terkait dengan makanan, masakan, dan makan; dan muncul-lah
Kita pengen masak, tapi kita tinggal sendiri dikosan, banyak resep makanan diperuntukkan untuk porsi yang lebih banyak, dan kalo kita beli porsi yang banyak padahal butuhnya sedikit maka banyak yang terbuang.
Dari pernyataan di atas, muncul-lah inisiasi gagasan baru yang ingin kita perdalam.
Fase Ketiga
Pada malam itu kita bergegas mewawancarai beberapa rekan kita, kita coba gali bagaimana mereka sehari-hari, siapa aja yang masak, apa aja masalah yang mereka alami, kita coba berempati dengan mereka. Hingga akhirnya kita bisa memvalidasi pernyataan yang kita dapatkan sebelumnya. Tentu saja tidak semua orang mengalami masalah pada pernyataan di atas. Tapi yaaaa memang aga tidak realistis pada saat itu untuk mengikuti best practice dan teori yang ada (kita sedang lomba dan dikejar target, haha).
Fase eksekusi
Kita start ekskusi. Dari permasalahan itu, kita start brainstorming dengan mencari apa solusinya. Akhirnya kita dapati sebuah ide yaitu produk untuk bisa menjual bahan makanan sesuai dengan resep dan sesuai dengan kebutuhan.
Dari ide itu kita start untuk build wireframe dan user flownya, bagaimana flow yang akan kita create, bagaimana business casenya, business processnya, dan banyak aspek krusial lainnya. Kita bagi tugas, ikhsan dan shahnaz yang fokus diaspek bisnis; aku dan hanif yang fokus ke pengalaman produknya.
Secara teknis sebenarnya flownya sederhana, user bisa register login, lihat daftar resep, beli produk paket resepnya (atau juga tidak), ikuti tutorial resepnya.
Prototypenya bisa dilihat disini.
Perlombaan
Jujur tim ini keren! Kita coba eksekusi dengan waktu yang sangat singkat, kita bikin rancangan produknya, bisnins model dan bisnis casenya. Itulah yang kita coba present. Lawannya sulit! Ada salah satu tim yang menarik perhatian kami, presentasi yang rapih, ide yang solid; mulai khawatirlah kita haha. Pada sesi tanya jawab para dewan juri mulai memunculkan pertanyaan kritis mereka (wajar, mereka ahlinya di bidang ini). Kita coba backup satu sama lain ketika pertanyaan menyangkut ke sisi bisnis, ke sisi pengelaman pengguna, ke sisi flow, dan flaws yang kita jelas miliki.
Pengumuman
Pada mendekati malam pengumuman, aku pasrah. Hahaha. Aku lupa kapan pengumumannya, akhirnya aku nggak dateng. Sampai suatu menit shahnaz spam call kalo kita menang! Dan akhirnya aku harus berpasrah tidak ikut foto :)
Kesimpulan
Sebenernya aku gatau sih tulisan ini pengen bahas appsnya apa pengelamannya wkwk. Cuman pelajarannya adalah seringlah cari masalah yang paling dekat. Karena produk yang baik adalah produk yang dipakek. Kenapa produk dipakek? karena produk tersebut menjadi solusi dari masalah yang dihadapi user. Sekian terimagaji.