Mencoba Menulis Meski Begitu Aja
Halo, saya mau belajar menuliskan apa isi kepala saya. Mungkin tulisan ini tidaklah rapi maupun tidak memiliki tujuan berarti jangankan tujuan, ini pokok saja sepertinya tidak ada. Mungkin saya bisa mulai untuk bercerita tentang apa yang saya alami beberapa bulan ke belakang, karena saya rasa beberap bulan ke belakang menjadi salah satu waktu di kehidupan saya yang sangat dinamis tetapi juga sangat monoton. Saya kira itu karena banyal perubahan yang terjadi, saya harus bisa beradaptasi secepat mungkin, mengambil keputusan secepat mungkin, dan berbuat salah serta memperbaikinya secepat mungkin. Tetapi, dalam prosesnya banyak hari-hari saya lalui dengan monoton begitu-begitu saja.
Dalam beberapa bulan terakhir, orang yang saya bertanggung jawab kepada hmm gimana si, memberikan tanggung jawab untuk pindah divisi ke development dan handle project yang memang sudah molor dalam beberapa bulan sebelumnya. Sebuah tantangan yang saya rasa cukup mengejutkan dan sedikit menakutkan. Saya melihat peluang dari apa yang saya kira baik bagi saya, sebuah tantangan dan ruang untuk belajar dan membuat kesalahan. Menjadi project manager tanpa pengalaman dapat digambarkan seperti Avatar Aang ketika pertama kali dinobatkan menjadi avatar, ditambah lagi guru-gurunya sudah meninggal ketika dia membeku selama 100 tahun. Saya rasa itu hal yang sedikit mirip dengan apa yang saya hadapi kala itu. Saya diberi tanggung jawab menjadi project manager dengan pengalaman teknis yang sangat minim tanpa adanya senior yang membimbing secara khsusus sebagai project manager.
Dalam seminggu hingga sebulan pertama, saat itulah pertama kali saya memulai hari dengan melihat dari atas apa yang salah dan apa yang mungkin sekiranya bisa kami bersama perbaiki. Memang tidak mudah dan tidak sederhana, saya harus bisa melihat secara luar dan secara objektif guna mencari akar masalah yang paling mendasar sekaligus mencari solusi sementara yang dapat segera diimplementasikan. Untungnya, saya mendapat banyak insight dari Mas Baim dan Alex. beliau berdua ini yang menceritakan pengalaman-pengalamannya dalam menangani project sebelum-sebelumnya. Saya merasa mendapatkan 10 tahun pengalaman dalam satu sesi bercerita. just kidding, it's seems not that posible, hehe. Tapi, benar saja saya jadi lebih percaya diri dan membuka diri untuk lebih banyak belajar. Saya mulai dengan menata ulang goals dari projek ini dan timeline pencapaiiannya. Bagaimana dan apa yang harus atau bisa kami lakukan untuk mencapai target.
Setelah melalui beberapa minggu dengan dibantu oleh kerja keras semua tim akhirnya kami bisa mulai menghasilkan apa yang belum bisa kami hasilkan sebelumnya. Fitur demi fitur, task demi task, item demi item kami selesaikan bersama. Memang banyak hal yang masih kurang dan terpaksa harus saya takeout demi kelancaran projek dan ketepatan waktu deliver. Meskipun demikian, ada salah satu tantangan terbesar yang saya pribadi alami dan menjadi hambatan. Secara sederhana adalah konsiten. Menjadi konsisten merupakan tantangan tersendiri bagi saya pribadi karena untuk menjaga bagaimana sebuah sprint berjalan, sebuah task bisa terdeliver dengan baik, dan masih banyak lainnya. Sayangnya, saya masih gagal untuk mejadi konsisten sepenuhnya. Saya rasa memang konsisten akan sulit untuk dilakukan jika tidak ada dukungan moril bersama dengan anggota tim yang lain. Ada kalanya saya merasa bosan untuk memulai hari dan menjalani minggu seperti itu saja. Namun, juga saya artikan waktu-waktu itu sebagai waktu beristirahat dan menjadi batu loncatan untuk melaju semakin cepat pada hari selanjutnya.